penelitian perkembangan pendidikan anak didik ku…

 

MAKALAH

PENELITIAN TERHADAP PERKEMBANGAN BELAJAR PESERTA DIDIK

“Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Belajar dan Pembentukan Karakter Anak”

 

Tugas ini disusun untuk mengampu Mata Kuliah : Perencanaan Sistem Pembelajaran di SD

Dosen Pengampu: Didit Dwi Jayanto, S. PdI.

 

Disusun Oleh :

Anggraini Hamzah

(108620600113)

 

Kelas PGSD B-Pagi

SEMESTER 5

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

2012

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Dalam makalah ini, penyusun menyajikan laporan penelitian yang telah dilakukan selama kurang lebih satu bulan, terhitung sejak tanggal 8 Oktober 2012.

Perkembangan peserta didik dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa factor. Di antaranya adalah lingkungan tempat tinggalnya, baik keluarga, sekolah, atau masyarakat sekitarnya. Dalam pengaruh lingkungan tersebut, peserta didik juga mengalami pembentukan karakter pada dirinya selama proses penyesuaian diri. Oleh karena itu, sebagai pendidik kita harus mengenali perkembangan dan proses tersebut. Apalagi dalam pendidikan, karena objek yang akan dihadapi guru adalah tentang peserta didiknya. Maka materi yang dikaji dalam makalah ini penting untuk dapat dipahami.

Namun penulis menyadari akan adanya kelemahan dan kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, segala kritik pembangun dan sumbangan saran akan diterima dengan penuh ucapan terima kasih demi semakin baiknya sajian makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.

 

Sidoarjo,    Oktober 2012

 

                                                                                                                               Penyusun

 

 

 

 

i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………….i

 

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………ii

 

Abstraksi…………………………………………………………………………………………..1

 

BAB I             PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang………………………………….…………………………………………..2

1.2         Rumusan Masalah…………………………………………………………………………..5

1.3         Hipotesis Masalah…………………………………………………………………5

1.4         Tujuan……………………………………………………………………………………….6

1.5         Manfaat…………………………………………………………………………….6

BAB II            KAJIAN PUSTAKA

2.1       Kesulitan Belajar Pada Anak……………………………………………………..8

2.2       Mengatasi Kesulitan Belajar……………………………………………………..10

2.3       Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar…………………………………..12

2.4       Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Karakter Anak…………………17

BAB III          PENUTUP

            3.1       Simpulan……………………………………………………………………………………28

            3.2       Saran……………………………………………………………………………………….30

Daftar Pustaka           

ii

DAFTAR PUSTAKA

 

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud berkerjasama dengan Rineka

Hallen A. 2005. Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Quantum Teaching.

Siregar, Eveline dan Nara, Hartini. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta

Munib Achmad, dkk. 2007. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang. UPT MKK UNNES

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

 

http://nic.unud.ac.id

Diakses melalui google pada 29/10/2012 pukul 20.09 WIB

http://konselingindonesia.

Diakses melalui google pada 29/10/2012 pukul 20.10 WIB

http://cumanulisaja.blogspot.com/2012/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

Diakses melalui google pada 29/10/2012 pukul 20.15 WIB

http://www.anneahira.com/prestasi-belajar-5944.htm

Diakses melalui google pada 29/10/2012 pukul 20.18 WIB

http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2227720-pengertian-belajar-dan-faktor-yang/#ixzz2AOImQGcY

 

Diakses melalui google.com 26/10/2012 pada pukul 15.22 WIB

http://bisnis-environment.blogspot.com/2011/03/pengaruh-lingkungan-terhadap-pendidikan.html

Diakses melalui google pada 29/10/2012 pukul 20.22 WIB

http://bisnis-environment.blogspot.com/2011/03/lingkungan-pendidikan.html

Diakses melalui google pada 27/10/2012 pukul 02.30 WIB

http://www.wajahbocah.com/anak-semakin-cerdas-dengan-sosialisasi.html

Diakses melalui google pada 28/10/2012 pukul 02.31 WIB

http://www.wajahbocah.com/beberapa-prinsip-motivasi-belajar-anak.html

Diakses melalui google pada 28/10/2012 pukul 02.43 WIB

http://www.wajahbocah.com/jadikan-pr-sebagai-hal-yang-menyenangkan.html

Diakses melalui google pada 27/10/2012 pukul 02.36 WIB

http://www.wajahbocah.com/mengatasi-anak-yang-suka-berkata-kasar.html

Diakses melalui google pada 27/10/2012 pukul 02.54 WIB

 

           

 

 

 

 

Abstrak

            Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia karena mempengaruhi seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya. Pendidikan dasar tentunya menjadi fondasi untuk tahap pendidikan selanjutnya. Dasar tersebut dapat diperoleh manusia secara formal di tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahap usia anak-anak. Pendidikan di SD sangat berkaitan erat dengan anak-anak yang notabennya adalah subyek dalam kegiatan belajar di sekolah SD. Mereka hidup dalam lingkungan masyarakat yang juga akan memberikan mereka pendidikan dalam lingkup non formal. Perkembangan pendidikan akan seiring dengan dinamika masyarakatnya, karena ciri masyarakat selalu berkembang. Begitu juga anak-anak yang mudah terpengaruh dan sering berubah keinginannya.

            Oleh karena itu sebagai guru kita harus mengenal lingkungan peserta didik yang berkaitan dengan kehidupannya. Karena faktor lingkungan tersebut adalah salah satu hal yang mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam belajar. Dengan demikian guru akan dapat menentukan metode, strategi, teknik dan model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan pada peserta didik tersebut.

            Kegiatan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan oleh seorang guru terhadap anak didiknya dalam mencapai keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Salah satunya adalah dengan mengenal kepribadian peserta didik yang dapat diketahui dari lingkungan sekitarnya.

Dari kegiatan penelitian ini diharapkan guru mampu memahami kepribadian peserta didiknya yang sangat berguna untuk menentukan rencana tindak lanjut yang akan dilakukan untuk mencapai keberhasilan belajar peserta didiknya.

 

 

Kata kunci      : pendidikan, keberhasilan belajar, kepribadian peserta didik, lingkungan.

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

             Pendidikan memiliki pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan berbagai potensi yang dimilikinya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik fisik dan lingkungan sosial budaya dimana dia hidup. Karena setiap individu memiliki potensi yang ada pada dirinya, tampak atau tidaknya tergantung pada bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan.

            Salah satu pengertian pendidikan dikemukakan oleh G. Thompson (1957) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap di dalam kebiasaan-kebiasaan, pemikiran, sikap-sikap dan tingkah laku. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan bukan hanya sarana menyiapkan anak untuk masa depannya, tetapi juga perkembangan anak sekarang menuju kedewasaannya.

Makalah ini berisi hasil penelitian terhadap salah satu anak didik penyusun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan yang bersifat langsung, baik dengan objek maupun factor pendukung objek misalnya, orang tua, guru, teman-teman dan lingkungan sekitar objek yang membantu terselenggaranya kegiatan penelitian ini dengan baik.

Pada penelitian ini penulis menggunakan instrumen berupa data diri objek penelitian untuk memperoleh data tentang umur objek dan anggota keluarga yang dapat menunjang terselenggaranya tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan siswa mengalami kemajuan dibandingkan saat sebelum mengikuti Bimbingan Belajar, baik secara pendidikan akademik maupun perubahan perilaku. Hal itu di dukung dengan kemampuannya yang sudah mampu membaca dan berhitung walaupun masih harus membutuhkan bimbingan. Dan juga perilaku objek yang semakin baik daripada sebelumnya. Berikut adalah identitas diri objek penelitian dan informasi penunjangnya:

Nama               : Danur Rianto (7)

Tanggal lahir   : 1 Desember 2005

Kelas               : I Sekolah Dasar

Ciri tertentu     : aktif bicara maupun bergerak, berani, ingin diperhatikan, supel, mudah beradaptasi, tidak suka belajar tapi tetap akan dia lakukan karena kesadaran ingin pandai (motivasi tinggi).

Data Anggota keluarga inti

- Ayah

            Nama               : Tarop (48)

            Tanggal lahir   : 1 Januari 1964

            Pendidikan      : Tamat SD

            Pekerjaan         : Buruh pabrik dan wirausaha (membuka usaha bengkel)

            Keterangan      : Dekat dengan Danur, tidak pernah memberi batasan pergaulan pada Danur, penyayang dan sabar, kurang memperhatikan dampak lingkungan terhadap perkembangan  Danur, contohnya ketika bersama Danur, beliau tidak memilah kata yang pantas atau pun tidak untuk didengar Danur padahal anak cenderung meniru apa yang ada disekitarnya (behaviorisme).

- Ibu

            Nama               : Ruliati (36)

            Tanggal lahir   : 15 September 1976

            Pendidikan      : SLTP

            Pekerjaan         :  Buruh pabrik

            Keterangan      :  Penyayang namun Danur lebih dekat dengan ayahnya, seperti ibu pada umumnya, suka mengomel dan ketika Danur melakukan kesalahan namun tidak dengan kekerasan, peduli dengan pendidikan Danur karena aktif mengikuti perkembangan pendidikan Danur.

- Kakak

            Nama               : Agung Setiawan (17)

            Tanggal lahir   : 5 November 1995

            Pendidikan      : SMK (masih bersekolah)

            Keterangan      : Meskipun hanya dua bersaudara dengan Danur, namun ternyata Agung tidak seberapa dekat dengan Danur. Agung cenderung tertutup dan bergaul hanya dengan teman-teman dekatnya saja, bahkan dengan kedua orang tuanya Agung bukan termasuk anak yang terbuka, namun sampai saat ini dia tidak pernah melakukan penyimpangan seperti remaja tertutup pada umumnya. Dia anak yang taat pada peraturan, namun bukan termasuk siswa berprestasi.

Setelah 3 minggu pertama dia mendaftar di tempat bimbingan belajar saya, analisis yang saya dapatkan adalah dia termasuk siswa yang kurang dalam kemampuan akademik, mampu bersosialisasi dengan baik, berani, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dengan cepat, cepat tanggap, mempunyai semangat belajar yang tinggi namun mudah putus asa atas hasil yang dia peroleh.

Dalam kegiatan penelitian ini penyusun memahami bahwa keberhasilan belajar peserta didik harus terus dikembangkan artinya tidak boleh berhenti hanya dengan adanya peningkatan yang didapatnya. Ini berarti pendidikan harus bersifat berkelanjutan apalagi dengan usia anak yang masih sangat membutuhkan bimbingan dalam proses perkembangannya.

 

 

 

1.2 Rumusan Masalah

            Dalam makalah ini, penyusun menyampaikan beberapa rumusan masalah yang akan dikaji. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum mencapai suatu keberhasilan, tentunya ada kesulitan yang harus diselesaikan. Demikian juga pada Danur, keberhasilan yang dicapainya tentu melalui kesulitan sebagai tolak ukurnya. Apa sajakah kesulitan yang dialami Danur dalam perkembangan pembelajarannnya?
  2. Berdasarkan kesulitan belajar yang di alami Danur tersebut, bagaimana tindakan guru dalam mengatasi masalah tersebut? Dan apabila sebagian besar masalah disebabkan oleh faktor lingkungan, adakah langkah khusus yang ditempuh guru untuk mengatasi permasalahan Danur?
  3. Keberhasilan suatu kegiatan belajar tentu dipengaruhi dari beberapa faktor. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar? Sesuai dengan penelitian yang dilakukan, kaitkan faktor tersebut dengan keberhasilan belajar Danur?
  4. Di Indonesia sekarang diterapkan sistem pendidikan berkarakter, bagaimana guru menanamkan karakter pada peserta didik seperti Danur yang dapat dikatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh penting? Apakah anak dapat membangun karakter dirinya setelah mengalami kesulitan?

 

1.3 Hipotesis Tindakan

            Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:

            Guru melakukan pendekatan pribadi terhadap peserta didik, misalnya dengan mengenal lingkungan tempat tinggalnya. Karena peserta didik seusia Danur adalah usia yang aktif bermain di lingkungannya, jadi guru harus kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran yaitu dengan memasukkan materi pelajaran dalam kegiatan bermain yang disukai Danur.

 

1.4 Tujuan

            Dalam makalah ini, penyusun juga menyampaikan beberapa tujuan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Dapat mengidentifikasi permasalahan belajar yang dialami peserta didik. Salah satunya adalah permasalahan yang dialami Danur. Bahkan mungkin permasalahan ini juga banyak di alami peserta didik lain dalam kegiatan belajarnya.
  2. Dapat mengetahui tindakan yang seharusnya kita lakukan sebagai guru untuk mengatasi masalah belajar peserta didik. Jika berhubungan dengan lingkungan kita dapat menyiapkan peserta didik agar mampu beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya. Karena pengaruh lingkungan memang tidak dapat dihindari akan memberikan perubahan pada individu, bisa menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk. Pada penelitian ini, kita dapat tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah belajar Danur.
  3. Dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar. Dengan penjelasan tersebut kita dapat mengetahui apa yang menyebabkan Danur mendapatkan keberhasilan belajarnya walaupun dalam waktu yang tidak begitu lama.
  4. Mengetahui cara membentuk karakter pada peserta didik melalui lingkungan tempat tinggalnya. Karena lingkungan selalu mempengaruhi kehidupan seseorang. Seperti Danur yang dapat memanfaatkan lingkungannya untuk membangun karakter dirinya.

 

 

1.5 Manfaat

            Makalah ini disusun berdasarkan penelitian yang dilakukan penyusun secara objektif karena didasari adanya manfaat yang dapat diambil hikmahnya. Manfaat tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Bagi Siswa      : dapat dijadikan tauladan dalam belajar yaitu sikap Danur yang tetap rajin belajar walaupun dia putus asa jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
  2. Bagi Guru       : belajar dari study kasus seperti penelitian ini, dapat mengaplikasikan secara langsung dalam Kegiatan Belajar Mengajar dan apabila mendapatkan hasil yang berbeda seperti penelitian berikut dapat dikajian lebih rinci dan dapat dipelajari bersama guru yang lain, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan mutu guru.
  3. Bagi Orang tua : dapat dijadikan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas belajar anak. Atau apabila anak mempunyai masalah yang sama, orang tua dapat mencontoh tindakan yang dijelaskan dalam penelitian ini.
  4. Bagi Masyarakat : dapat dijadikan cerminan diri menjadi lebih baik karena masyarakat dalam suatu lingkungan sedikit banyak dapat mempengaruhi perkembangan anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1 Kesulitan Belajar pada Anak

Kesulitan belajar yang dialami siswa merupakan masalah yang perlu diatasi dengan cepat. Untuk mengidentifikasi masalah belajar diperlukan seperangkat keterampilan khusus, sebab kemampuan mengidentifikasi yang berdasarkan naluri belakang kurang efektif. Gejala-gejala munculnya masalah belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk, biasanya muncul dalam bentuk perubahan perilaku yang menyimpang atau dalam menurunnya hasil belajar. Perilaku yang menyimpang juga muncul dalam berbagi bentuk seperti: suka mengganggu teman, merusak alat-alat pembelajaran dan lain sebagainya.

Anak yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang memiliki ganguan satu atau lebih dari proses dasar yang mencakup pemahaman penggunaan bahasa lisan atau tulisan, gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau menghitung.

Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :

  1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
  2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
  3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
  4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
  5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Dalam penelitian diketahui bahwa Danur memiliki kemampuan yang cukup baik, motivasi yang cukup mampu membantu meningkatkan perkembangan pendidikannya. Hanya saja lingkungan Danur tidak mendukung keberhasilan tersebut dengan sempurna. Anak seusianya lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan keluarga dan lingkungan bermain. Namun kedua lingkungan tersebut tidak begitu baik dalam mempengaruhi Danur. Danur menjadi anak yang kurang perhatian orang tua, sering berbicara kasar dengan kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan anak seusianya. Sedangkan pada lingkungan belajar, Danur dapat mengembangkan potensi dirinya. Seharusnya sekolah mampu mengeksplorasi lebih banyak daripada di tempat Bimbingan Belajar. Sehingga tugas guru Bimbingan Belajar menjadi lebih berat daripada yang seharusnya. Belum lagi jika ada jeda pendidikan, misalnya hari libur les yang kemudian menjadi kesempatan anak menghabiskan waktu di lingkungan bermain yang memberi pendidikan moral buruk baginya.

 

2.2 Mengatasi Kesulitan Belajar

            Masalah kesulitan belajar yang sering dialami oleh para siswa disekolah, merupakan masalah penting yang perlu mendapat perhatian yang serius di kalangan para peserta pendidik. Dikatakan demikian, karena kesulitan belajar yang dialami oleh para siswa di sekolah akan membawa dampak negatif, baik bagi siswa sendiri maupun lingkungannya. Untuk mencegah dampak negatif yang timbul karena kesulitan belajar yang dialami siswa, maka para pendidik harus waspada terhadap gejala-gejala kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh siswanya.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui kesulitan belajar Danur adalah sebagai berikut:

  1. Lingkungan yang tidak mendukung keberhasilan belajar
  2. Kurangnya perhatian orang tua
  3. Menghabiskan waktu di lingkungan bermain lebih banyak daripada  di lingkungan sekolah
  4. Kurangnya kemampuan akademik
  5. Anak suka berkata kasar dan kotor

Sebagai guru kita wajib mengatasi permasalahan belajar yang dialami peserta didik kita. Dalam masalah Danur, guru les perlu berkomunikasi dengan lingkungan sehari-hari Danur. Terutama komunikasi yang baik antara guru sekolah dan orang tua untuk bersama-sama mewujudkan tercapainya keberhasilan belajarnya. Pihak-pihak tersebut harus memiliki rasa simpati dan empati terhadap Danur. Simpati diberikan dengan memberikan perhatian pada Danur di saat kapanpun. Karena perhatian yang cukup akan membuatnya merasa dianggap dan diterima, sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri karena dirinya begitu penting bagi orang lain. Empati digunakan pada setiap waktu yang di lalui Danur. Pihak-pihak terkait harus mampu masuk dalam dunia Danur yang memerlukan perbaikan dari dalam. Salah satunya dengan memberikan pendidikan moral dan akhlak yang baik.

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah belajar Danur:

  1. 1.      Memelihara konsentrasi

Guru mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan sudah biasa terjadi. Solusi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan alat peraga yang menarik. Siswa dialihkan dan arahkan perhatiannya pada alat peraga yang digunakan guru dalam mengajar. Selain itu siswa diajak mengeksplorasi dengan alat peraga yang disiapkan guru dengan cara meraba atau menggunakan langsung dan terakhir siswa diminta mengekspresikan kegembiraan selama kegiatan tersebut berlangsung yang dilakukan secara verbal.

  1. 2.      Membangun suasana aktif, interaktif dan menyenangkan

Untuk melakukan langkah berikut solusi yang disampaikan adalah upaya guru dengan mengajak sisiwa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Caranya adalah dengan mengajak siswa mengeksplorasi suatu objek/benda dengan membilang/operasi beritung dasar, kemudian membagi kelas menjadi beberapa kelompok siswa , meminta masing-masing kelompok untuk mengamati objek yang diminati dan guru memberikan bimbing mereka agar bisa membagi informasi dengan kelompok lain.

  1. 3.      Melibatkan orang tua

Orang tua merupakan guru yang pertama dan terdekat dengan anak. Dengan demikian, peran orang tua sangat penting untuk mengenali permasalahan apa yang dialami anak. Selain itu, penting juga untuk menemukan kekuatan atau kemampuan yang dimiliki anak. Hal ini akan membantu orang tua mendukung anak mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri anak. Apabila orang tua sibuk, maka dapat dibantu dengan anggota keluarga lain yang juga bisa menjalin kedekatan dengan Danur.

  1. 4.      Memberi motivasi

Anak dengan gangguan belajar juga bisa mengalami perasaan rendah diri karena ketidakmampuannya atau karena sering diejek oleh teman-temannya. Untuk itu, penting bagi orang tua memberikan pujian jika ia berhasil melakukan suatu pencapaian. Misalnya, bila suatu kali anak berhasil mendapat nilai yang cukup baik atau mengerjakan tugas dengan benar, maka orang tua hendaknya memberi pujian pada anak. Hal ini akan memotivasi anak untuk berbuat lebih baik, meningkatkan rasa percaya diri dan membantu anak merasa nyaman dengan dirinya. Namun juga perlu diperhatikan agar tidak member motivasi secara berlebihan, karena akan mengakibatkan anak menjadi puas dan enggan meningkatkan prestasinya.

 

Sekolah juga dapat mengatasi melalui pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan siswa dapat mengalami perkembangan yang optimal baik secara akademis, psikologis dan sosial. Perkembangan yang optimal secara akademis diharapkan siswa mampu mencapai prestasi belajar yang baik dan optimal sesuai dengan kemampuan, perkembangan yang optimal ditandai dengan perkembangan kesehatan yang memadai, sedangkan perkembang optimal dari segi sosial bertujuan agar setiap siswa dapat mencapai penyesuaian diri dan memiliki kemampuan sosial yang optimal.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa bimbingan dan konseling sangat diperlukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa, sehingga siswa dapat meperoleh prestasi yang baik. Dengan perolehan prestasi yang baik maka tujuan pendidikan nasional akan tercapai, dan juga dapat berguna bagi kehidupan sehari-hari yang bahagia dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya. Namun untuk sekolah yang belum memiliki guru BK, penanganan siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan oleh guru kelas dengan pendekatan personal yaitu dengan mengenal siswa yang mengalami kesulitan belajar, memaham sifat dan jenis kesulitan belajarnya, menetapkan latar belakang kesulitan belajar, menetapkan usaha-usaha bantuan, pelaksanaan bantuan, dan melakukan tindak lanjut untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang diberikan serta untuk menguatkan efek dari bantuan tersebut.

 

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar

            Belajar adalah kegiatan yang dilakukan dengan menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya, oleh sebab itu keberhasilan belajar tidak dapat ditentukan secara kebetulan tetapi melalui tahap-tahap yang mempunyai tolak ukur. Berikut ini adalah pengertian belajar menurut tolak ukur keberhasilannya, yaitu:

a. Proses

Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar bila pikiran dan perasaannya aktif. Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi terasa oleh yang bersangkutan (orang yang sedang belajar itu). Guru tidak dapat melihat aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Yang dapat diamati guru ialah manifestasinya, yaitu kegiatan siswa sebagai akibat adanya aktivitas pikiran dan perasaan siswa tersebut.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap Danur, kegiatan belajar melalui tolak ukur proses sudah dapat dikatakan berhasil. Karena tanpa disadari pola piker Danur semakin menunjukkan kemajuannya di bidang akademik. Sebelumnya dia hanya tahu nama angka tanpa tahu lambangnya, sekarang dia  bahkan sudah dapat berhitung hingga penjumlahan dua angka.

 

b. Perubahan perilaku

Hasil belajar berupa perubahan perilaku. Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, ketrampilan, atau penguasaan nilai-nilai (sikap). Namun tidak semua perubahan perilaku merupakan hasil belajar, karena ada perubahan tingkah laku yang disebabkan karena kematangan, atau karena tidak disadari peserta didik menghilangkan sikap buruknya, misalnya berbicara kasar. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar ialah perubahan yang dihasilkan dari pengalaman (interaksi dengan lingkungan), tempat proses mental dan emosional terjadi.

Pada awalnya, Danur suka sering mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Kemudian sebagai guru, penyusun melakukan pendekatan terhadapnya. Penyusun berusaha mencari tahu darimana dia mendapatkan pengetahuan tentang kata-kata yang tidak sepantasnya dia ucapkan. Dan ternyata selama ini, lingkungan bermain Danur tidak bersama teman-teman sebayanya. Dia bermain dengan anak-anak usia SMP yang sering bermain dekat rumah Danur. Anak seusia Danur memang sangat mudah untuk meniru apa yang ada di sekitarnya, termasuk mengucapkan perkataan kotor. Maka sebaiknya orang tua Danur lebih memperhatikan lingkungan bermain Danur, yang bukan tidak mungkin membawa pengaruh negative seperti yang terjadi ini.

Dengan adanya kasus ini, penyusun selalu melakukan pendekatan pribadi secara rutin kepada Danur. Kemungkinan untuk menghilangkan kata-kata kotor tersebut sangat kecil, karena lingkungan Danur pun mendukung penyerapan kata tersebut pada kehidupan Danur. Oleh karena itu, guru melakukan pendekatan untuk meminimalisir agar Danur tidak terbiasa mengucapkan kata tersebut, dan mengalihkannya pada kegiatan pembelajaran yang seharusnya.

 

c. Pengalaman

Belajar adalah mengalami; dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik seperti buku, alat peraga dan alam sekitar, sedangkan lingkungan social misalnya guru, teman, kepala sekolah, pembina pramuka. Belajar dapat melalui pengalaman langsung maupun tidak langsung. Belajar melalui pengalaman langsung, yaitu belajar dengan melakukan sendiri atau dengan mengalaminya sendiri dan ini biasanya akan memberikan hasil yang lebih optimal. Hal ini sesuai dengan teori kerucut Edgar Dale (Aqib. 2002:59) yang mengatakan bahwa tingkat pengalaman yang paling tinggi nilainya adalah pengalaman yang diperoleh dengan kontak langsung dengan lingkungan dan objek.

Pada keberhasilan belajar dalam perubahan perilaku Danur yang dijelaskan sebelumnya, penyusun tidak hanya mengatakan bahwa kata-kata yang selama ini sering diucapkan Danur itu salah. Namun penyusun juga menanamkan nilai positif yang dapat diambil dari kesalahan Danur selama ini. Sebagai guru, penyusun menggunakan kata-kata yang mudah dipahami. Dan terjadilah percakapan berikut:

Penyusun         : “ Danur, kata apa yang kamu ucapkan tadi?”

Danur              : (hanya menunduk karena teman-temannya bersorak “wiih, meso!”)

Penyusun         : (sambil melakukan kontak fisik dengan mengangkat dagu Danur) “ Kenapa? Sebenarnya kamu tahu kalau mengucapkan kata tadi tidak boleh, kan? Mengapa tetap kamu ucapkan?”

Danur              : “Lha Tino lho, mbak!” (menunjuk teman sebelahnya, seperti anak kecil pada umumnya yang marah waktu dijahili temannya)

Penyusun         : “ Tapi tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor seperti tadi, ada kata yang baik untuk kamu ucapkan kalau kamu marah, misalnya Astaghfirullah, atau Ya Allah. Nah itu lebih baik, kan? Kamu bisa dapat pahala karena mengucapkan kata yang baik, dan Allah juga akan melindungi kamu supaya tidak mudah marah lagi.”

            Kemudian penyusun menyuruh Tino untuk minta maaf kepada Danur dengan bersalaman.

            Dari peristiwa tersebut, peserta didik belajar dari pengalaman untuk tidak mengucapkan kata kotor saat marah dan bisa menggantinya dengan kata yang lebih baik (kalimat toyyibah). Hal tersebut tidak hanya berlaku untuk Danur, tetapi juga untuk peserta didik lain yang juga menyaksikan hal tersebut secara langsung. Dalam penelitian ini, kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali. Maka guru tidak boleh jenuh melakukannya agar nilai positif dapat tertanam dalam jangka panjang pada ingatan anak.

            Lama-kelamaan Danur sudah tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor (meso) seperti yang pernah dia lakukan. Meskipun mengucapkan kalimat Toyyibah juga jarang dia ucapkan, tapi setidaknya Danur tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor lagi. Saat dia marah karena di ganggu temannya, dia menoleh kepada penyusun kemudian berkata, “Bu, Tino (misal) nakal!”.

Seperti kata pepatah “ Pengalaman adalah Guru yang paling Berharga” yang berlaku untuk Danur dan peserta didik lainnya dalam ruang belajar penyusun.

Di dalam setiap kegiatan pembelajaran, yang menjadi target utama ialah keberhasilan peserta didik dalam memahami materi yang diberikan oleh pengajar. Peserta didik yang telah memahami tersebut dapat dikatakan telah mencapai keberhasilan belajar.

 

Keberhasilan belajar peserta didik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. a.      Faktor Internal

Faktor internal yaitu suatu faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Faktor internal dibagi menjadi 2, yaitu:

 

* faktor fisiologi yang terdiri dari kondisi fisik dan kondisi panca indera

- Kondisi fisik seseorang akan mempengaruhi daya tangkapnya terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memperhatikan kondisi fisik peserta didiknya sebelum menerima materi pelajaran. Untuk kondisi fisik yang kurang sehat, guru dapat mempersilahkan peserta didik untuk beristirahat di UKS agar Kegiatan Belajar Mengajar tidak terganggu atau mengganggu peserta didik yang sakit tersebut. Berbeda dengan tindakan guru pada kondisi fisik peserta didik yang kurang bersemangat, dapat diberikan stimulus terlebih dahulu untuk merangsang peserta didik untuk lebih aktif. Misalnya dengan permainan, ice breaking, atau bernyanyi bersamam.

- Kondisi panca indera yang kurang sempurna (cacat tubuh) yang bersifat tidak permanen atau bukan bawaan (misal:karena kecelakaan) tentu harus diperlakukan secara khusus dan tidak bisa disamakan dengan peserta didik lainnya. Maka diperlukan tindakan intensif agar kegiatan pembelajaran tetap terlaksana dengan baik, misalnya keikutsertaan orangtua atau wali siswa di kelas selama masih diperlukan. Berbeda dengan peserta didik yang memiliki ketidaksempurnaan permanen atau karena bawaan sejak lahir, pemerintah memberikan solusi untuk diberikan pendidikan di sekolah khusus yang kita kenal dengan Sekolah Luar Biasa (SLB).

 

* faktor psikiologi yang terdiri dari bakat, minat, kecerdasan, dan motivasi.

- Bakat : suatu potensi dasar yang dimiliki oleh setiap manusia dari sejak mereka lahir ke dunia dan merupakan anugerah dari Tuhan yang apabila diasah akan menjadikannya suatu potensi yang luar biasa. Bakat juga memudahkan peserta didik memahami sesuatu hal yang tentunya masih ada kaitan dengan bakatnya. Contoh : anak A berbakat dalam bidang seni musik, dia dengan mudah mempelajari gitar hanya dalam waktu satu minggu namun bagi anak B yang tidak memiliki bakat di bidang musik, maka ia akan kesulitan dalam mempelajari gitar tersebut. Jadi disini bakat juga ikut berperan dalam membuat peserta didik berprestasi baik.
      – Minat : suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang ia (peserta didik) sukai. Dalam konteks ini ialah didalam pembelajaran. Dengan minat yang penuh dalam belajar, maka secara otomatis prestasi peserta didik pun akan meningkat. Contoh : anak A mempunyai minat yang besar untuk mempelajari mapel TI di sekolahnya, dengan modal minat dan ketertarikan tersebut maka dia dapat dengan mudah memahami materi-materi Ti yang diberikan oleh pengajar.

- Kecerdasan : suatu intelegensi yang berhubungan dengan otak manusia, biasa kita sebut dengan IQ. Dengan memiliki IQ average atau above average makan peserta didik akan dengan mudahnya menangkap dan memahami materi yang diberikan oleh pengajar serta memudahkan juga dirinya untuk berprestasi di bidang akademis.

- Motivasi : suatu dorongan dari dalam diri manusia untuk terus melakukan suatu hal dalam makalah ini ialah belajar. Dengan terus termotivasi, maka peserta didik akan dengan mudah meningkatkan prestasi belajarnya.

 

 

  1. b.      Faktor Eksternal

Faktor eksternal yakni faktor yang berasal dari luar diri individu itu sendiri, seperti faktor keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar (masyarakat).

* Keluarga : lingkungan dimana anak pertama kali mendapatkan pendidikan yaitu di lingkungan rumahnya sendiri. Pendidikan diajarkan oleh anggota keluarga, seperti ibu, ayah maupun saudara. Kondisi di dalam suatu keluarga sangat mempengaruhi prestasi peserta didik. Contoh : kondisi rumah yang tidak nyaman serta bising, pasti membuat anak untuk malas belajar sehingga prestasi belajarnya menurun. Jadi keluarga sangat menentukan sekali mengingat bahwa disinilah pendidikan pertama kali diterima oleh anak. Seharusnya lingkungan keluarga menciptakan atmosfer yang kondusif serta nyaman untuk belajar.

* Sekolah : lingkungan dimana anak mendapatkan pendidikan formal. Disini faktor seperti pengajar, fasilitas yang menunjang pembelajaran sangat berpengaruh bagi prestasi belajar peserta didik. Sekolah menjadi alat pantau utama apakah peserta didik berhasil menerima dengan baik apa yang diajarkan oleh pengajar. Dengan menciptakan sistem belajar yang baik dan dilakukan dengan sungguh-sungguh maka akan berdampak besar pada peningkatan prestasi peserta didik.

* Masyarakat : lingkungan dimana anak melakukan interaksi, sosialiasi terhadap orang-orang disekitarnya termasuk juga teman sebaya. Masyarakat juga berperan besar dalam prestasi belajar peserta didik dalam membentuk kepribadian sosial nya. Contoh : anak A murid yang pintar, namun ia mempunyai teman-teman yang malas dan hobinya nongkrong-nongkrong. Secara tidak langsung, ia akan terpengaruh oleh teman-temannya tersebut. Semula anak A adalah anak yang rajin dan pintar sekarang ia menjadi anak yang pemalas dan bodoh karena pengaruh dari lingkungan teman sebayanya.

 

 

2.4 Pengaruh Lingkungan terhadap Pembentukan Karakter Anak

 

Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Di sisi lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal (sekolah) saja. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan.

Lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap praktek pendidikan. Lingkungan pendidikan sebagai berbagai lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan, yang merupakan bagian dari lingkungan sosial.

A. Jenis Lingkungan Pendidikan

Mengacu pada pengertian lingkungan pendidikan seperti tertulis diatas, maka lingkungan pendidikan dapat dibedakan atau dikategorikan menjadi 3 macam lingkungan, yaitu: (1) lingkungan pendidikan keluarga; (2) lingkungan pendidikan sekolah ; (3) lingkungan pendidikan masyarakat atau biasa disebut tripusat.

1. Lingkungan Pendidikan Keluarga

Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang dengan baik. Pendidikan keluarga disebut pendidikan utama karena di dalam lingkungan ini segenap potensi yang dimiliki manusia terbentuk dan sebagian dikembangkan. Bahkan ada beberapa potensi yang telah berkembang dalam pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga dapat dibedakan menjadi dua yakni :

a) Pendidikan prenatal (pendidikan sebelum lahir)

Merupakan pendidikan yang berlangsung selama anak belum lahir atau masih dalam kandungan. Pendidikan prenatal lebih dipengaruhi kepada kebudayaan lingkungan setempat. Sebagai contoh dalam masyarakat jawa dikenal berbagai macam upacara adat selama anak masih ada dalam kandungan seperti neloni, mitoni. Selain upacara-upacara adat untuk menyelamati anak yang masih dalam kandungan dalam masyarakat jawa dikenal juga berbagai macam sirikan (hal-hal yang harus dihindari) selama anak masih dalam kandungan.

Dalam kehidupan yang lebih modern sekarang ini, terdapat pula model pendidikan prenatal. Seperti mendengarkan lagu-lagu klasik selama anak masih dalam kandungan, melakukan pemerikasaan rutin ke dokter kandungan atau mengkonsumsi nutrisi yang baik bagi si  bayi adalah contoh-contoh pendidikan prenatal dalam kehidupan modern.

Secara sederhana pendidikan prenatala dalam keluarga bertujuan untuk menjamin agar si bayi sehat selama dalam kandungan hingga nanti pada akhirnya dapat terlahir dengan proses yang lancar dan selamat.

b) Pendidikan postnatal (pendidikan setelah lahir)

Merupakan pendidikan manusia dalam lingkungan keluarga di mulai dari manusia lahir hingga akhir hayatnya. Segala macam ilmu kehidupan yang diperoleh dari keluarga merupakan hasil dari proses pendidikan keluarga postnatal. Dari manusia lahir sudah diajari bagaimana caranya tengkurap, minum, makan, berjalan hingga tentang ilmu agama.

Sama seperti pendidikan prenatal yang tujuan adalah menjamin manusia lahir ke dunia, pendidikan postnatal ditujukan sebagai jaminan agar manusia dapat menjadi manusia yang baik dan tidak mengalami kesulitan berarti selama proses manusia hidup.

Bagaimana manusia bersikap tentang segala macam lingkungannya di luar lingkungan keluarag sangat tergantung pada bagaimana proses pendidikan keluarga berlangsung. Dalam dunia modern seperti sekarang, bagaimana pendidikan keluarga berlangsung tidak sepenuhnya tergantung pada orang tua namun bisa juga dipengaruhi oleh orang lain yang notaben bukan bagian dari keluarga. Ini bisa terjadi karena kesibukan orangtua maka orangtua lebih cenderung untuk menyewa orang lain untuk merawat (mengasuh) anaknya.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa orang tua Danur memang kurang meluangkan waktu untuk Danur, sehingga Danur mudah terpangaruh oleh lingkungan bermainnya. Padahal anak seusia Danur seharusnya memiliki perhatian lebih banyak dari orang tuanya atau keluarga, karena pembentukan karakter dan kepribadian anak yang siap di lingkungan luar harus mempunyai bekal cukup di keluarga terlebih dahulu.

 

2. Lingkungan Pendidikan Sekolah

Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, sekolah telah mencapai posisi yang sangat sentral dan belantara pendidikan keluarga. Hal ini karena pendidikan telah berimbas pola pikir ekonomi yaitu efektivitas dan efesiensi dan hal ini telah menjadi semacam ideologi dalam proses pendidikan di sekolah.

Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.

Seorang pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru, sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak.

Dari hasil penelitian yang dilakukan penyusun, diketahui bahwa wali kelas Danur terkesan member penilaian pada peserta didiknya secara subyektif. Jadi peserta didik yang mempunyai kemampuan dan karakter yang berbeda disamakan penilaiannya, pemberian saran juga terkesan sama pada masing-masing peserta didik. Ini seperti kembali pada kurikulum sebelum KBK, yang belum mengacu pada kompetensi yang akan digali pada diri peserta didik.

Jadi wajar saja bila pengetahuan buruk yang diterima Danur tidak segera dapat diatasi. Karena peserta didik seperti Danur tidak begitu dekat dengan wali kelas yang notabennya adalah orang tua anak di sekolah.

3. Lingkungan Pendidikan Masyarakat

Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.

Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertian-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.

Lingkungan masyarakat atau lingkungan pergaulan anak. Biasanya adalah teman-teman sebaya di lingkungan terdekat.  Dengan beragam latar belakang, mereka perlu mendapat perhatian khusus dalam proses pendidikan anak, karena anak belum memiliki filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Di sela-sela bermain, anak akan mengambil dan meniru perangai serta tingkah laku temannya atau orang yang sedang lewat, sehingga terkadang mampu merubah pemikiran lurus menjadi rusak, apalagi mereka mempunyai kebiasaan rusak, misalnya perokok, pemabuk dan pecandu narkoba, maka mereka lebih cepat menebarkan kerusakan di tengah pergaulan anak-anak dan remaja.

Penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan yang diperoleh Danur memang kurang mendukung terhadap perkembangan Danur. Pada penjelasan sebelumnya, Danur kurangnya perhatian orang tua dan guru sehingga cenderung dia menjadi anak yang mandiri, tidak mematuhi peraturan dan seenaknya sendiri karena tidak ada yang mengarahkannnya. Maka di sinilah seharusnya dia mendapatkan pendidikan yang baik. Namun kenyataannya lain, lingkungan pergaulan Danur tidak dengan anak-anak sebayanya. Dia lebih suka bermain dengan anak yang tingkatan pendidikannya jauh diatas Danur. Anak seusia Danur yang umumnya masih dalam masa bermain, menjadi masa dimana dia harus diperlakukan seperti pembantu. Danur sering dijadikan pesuruh oleh teman bermainnya yang kebanyakan sudah SMP. Danur melakukannya dengan senang hati, karena setelah melakukan perintah temannya dengan baik dia diberi uang jajan, tapii jika salah melakukan maka Danur dimaki dengan kata-kata kotor dan kasar yang seharusnya tidak diperoleh anak seusianya.

Karena lingkungan yang selama ini diperoleh Danur tidak mendukung perkembangan yang baik untuknya, maka kemampuan belajar dan potensi yang dimilikinya pun tidak dapat diintegrasikan dengan baik. Danur lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain di luar rumah, sehingga orang tua semakin tidak memiliki banyak waktu untuk memantaunya. Nilai-nilai sekolahnya sangat jauh tertinggal dari teman-temannya yang lain, bahkan dia belum mengenal semua huruf dan angka 1-20 dengan sempurna.

Oleh karena itu, orang tua Danur mengambil tindakan untuk memasukkan Danur ke sebuah Bimbingan Belajar yang dikelola sendiri oleh penulis. Awalnya banyak sekali kesulitan yang dialami penulis, terutama pemahaman Danur dan kemampuannya dalam menjawab soal yang termasuk tidak mampu. Namun tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi dengan suatu keyakinan. Dan dengan beberapa cara yang dilakukan penyusun, sekarang Danur sudah mampu membaca walaupun belum begitu lancar, namun dapat melakukan perhitungan dengan baik hingga bilangan dua angka. Ini menunjukkan bahwa lingkungan masyarakat juga memiliki peran penting dalam perkembangan anak.

Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:

1.pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya

2.pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan

3.pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.

Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Antara lingkungan yang sau dengan lingkungan yang lain tidak mungkin untuk berdiri sendiri. Terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antar lingkungan pendidikan.

Lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat manusia. Lingkungan sekolah sebagai bekal ketrampilan dan ilmu pengetahuan, sedangkan lingkungan masayarakat merupakan tempat praktek dari bekal yang diperoleh di keluarga dan sekolah sekaligus sebagai tempat pengembangan kemampuan diri.

Melihat hal diatas maka sudah selayaknya terdapat koordinasi antar lingkungan sehingga terjadi keselarasan dan keserasian dalam menjadikan manusia yang berpendidikan dan berkepribadian unggul.

               

 

Penanaman Karakter Pada  Peserta Didik

            Setiap orang memiliki karakter yang berbeda antara yang satu dengan lainnya. Karakter seseorang dibentuk melalui proses sosialisasi yang dia lakukan dengan lingkungan sekitarnya. Bersosialisasi dengan lingkungan memberikan banyak pengalaman pada anak yang sebenarnya mengandung nilai kehidupan untuk membentuk karakter anak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, lingkungan pendidikan keluarga Danur yang kurang meluangkan waktu dan lingkungan pendidikan sekolah yang kurang dekat dengan orang tua di sekolah (wali kelas/ guru), dan lingkungan pergaulan yang cenderung melanggar norma kesopanan membentuk karakter Danur sebagai anak yang berani, tidak suka belajar, ingin selalu diperhatikan. Namun dia juga memiliki karakter yang baik, yaitu mudah bergaul dengan lingkungan baru, mempunyai motivasi yang kuat pada dirinya sendiri, dan mandiri.

            Pembentukan karakter seseorang terjadi selama masa hidupnya. Antara pikiran dan perasaan bekerja bersama untuk mencari tahu kehidupan yang dia lalui selalu mengandung nilai yang dapat membentuk karakter dirinya. Oleh karena itu, lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang. Karena kehidupan seseorang berlangsung dalam setiap lingkungan yang dia tempati.

            Berdasarkan hasil penelitian, penyusun menerapkan beberapa tindakan yang dapat digunakan untuk menanamkan karakter pada Danur:

  1. 1.      Anak belajar dengan kemampuannya sendiri (mandiri)

Anak seusia Danur dapat bereaksi terhadap berbagai rangsangan dibandingkan usia-usia sebelumnya. Kematangan emosi, kemampuan sosial, dan daya pikirnya sudah sampai pada taraf dimana anak mampu merasakan kesenangan ketika beraktivitas dengan teman sebayanya. Inilah yang membuat anak sering berlama-lama dengan teman-temannya ketika bermain. Saat bersama teman-teman itulah anak menemukan suasana yang menyenangkan. Sesungguhnya kesenangan berkumpul bersama teman tidak sekedar membuat anak senang karena dapat bermain. Ketika beraktifitas dengan teman sebayanya, anak dapat mengukur kemampuannya. Anak membandingkan kemampuannya di antara teman sepermainannya. Dan guru akan melihat betapa anak tidak dapat menyembunyikan rasa percaya dirinya, saat melihat betapa anak tersebut mampu “lebih” dibandingkan dengan teman-temannya. Seperti yang terjadi saat kegiatan belajar di Bimbingan Belajar milik penyusun, penyusun tidak bermaksud merendahkan Danur dengan membandingkan kemampuan antar peserta didiknya. Waktu Danur tidak bisa menjawab pertanyaan karena dia tidak bisa membaca, penyusun menstimulus agar Danur mau membaca dengan usahanya sendiri walaupun masih ada kesalahan dengan menyuruhnya melihat contoh Tino sebagai teman sebayanya. Namun pada lain waktu penyusun juga menyuruh Tino untuk melihat Danur yang tidak menyerah belajar, hal ini juga dapat menanamkan karakter bijaksana, dapat dipercaya, rajin, jujur berkata apabila belum mampu dan adil dalam memperlakukan seseorang.

  1. 2.      Anak belajar berekspresi (percaya diri)

Berekspresi bukanlah keterampilan yang dibawa anak sejak lahir alamiah. Anak harus belajar dan mengembangkannya. Tentu saja, untuk dapat berekspresi dengan benar, anak perlu tahu dan mengenal semua jenis perasaaan. Dalam hal ini merupakan tugas guru untuk memperkenalkannya. Sehubungan dengan mengekspresikan rasa gembiranya, anak mengembangkan kemampuan ini sejak masih bayi. Mulainya dengan senyum kecil. Namun setelah merayakan ulang tahunnya yang keempat, ekspresi kegembiraan anak makin nyata. Bahkan, ketika memasuki usia kelima, ekspresi kegembiraan anak kian meluap-luap dan makin kuat. Banyak hal sepele yang dapat membuat anak melompat-lompat, bertepuk tangan dan bersorak kegirangan. Tidak perlu cemas jika anak terlihat bereaksi lebih saat mengekspresikan kegembiraannya di usia ini. Semua disebabkan karena di usia 5 tahun, anak memasuki tahap mengekspresikan kegembiraan dengan melibatkan aktivitas otot. Pada usia masuk SD, seiring dengan kematangan dan pertambahan usianya, anak akan belajar mengekspresikan kegembiraannya dalam pola yang dapat diterima secara sosial. Karena dia sudah mulai masuk dalam lingkungan dan ingin diterima dalam lingkungan tersebut. Dalam kegiatan penelitian ini, penyusun mengetahui bahwa anak seusia Danur senang bermain dengan lingkungannya. Sehingga waktu dia merasa gembira, dia akan mengajak temannya ramai atau sering berbicara dengan sesekali tertawa riang. Namun apabila dia merasa sedih, dia akan diam dan menutup diri, bahkan jika diajak temannya bercanda dia akan mudah marah dan tersinggung. Berekspresi dengan cara demikian nengajarkannya untuk percaya diri, menunjukkan apa yang dia rasakan tanpa merasa malu atau takut dengan respon dari lingkungannya

  1. 3.      Disiplin melalui aktifitas (disiplin dan bertanggungjawab)

Tak heran jika anak akhirnya melanggar semua rutinitasnya, karena asyik bermain dengan teman. Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah memahami perubahan ini sebagai bentuk kebutuhannya. Fokuskan perhatian pada kegembiraan dan manfaat yang akan di dapat anak dari aktivitasnya tersebut. sekalipun demikian, tidak ada salahnya jika guru menjelaskan kepada anak bahwa aktifitas bermain yang terlalu lama telah mengganggu kebutuhannya yang lain. Guru mengingatkan Pekerjaan Rumah (PR) yang didapat Danur dari sekolah untuk dikerjakan sebelum bermain. Karena memang anak seusia Danur tidak bisa lepas dari waktu bermain. Inilah saat yang paling tepat untuk menerapkan disiplin kepada anak.

 

  1. 4.      Tidak takut menyampaikan kekurangan (jujur)

 Pendidikan harus memiliki tujuan, yang pada hakikatnya adalah pengembangan potensi individu yang bermanfaat bagi kehidupan pribadinya maupun bagi warga masyarakat di sekitarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sebagai pendidik guru perlu melakukan upaya yang sengaja dan terencana yang meliputi bimbingan, pengajaran dan pelatihan. Kegiatan tersebut harus diwujudkan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang lazim disebut dengan pendidikan. Jadi upaya pendidikan bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran melainkan juga membimbing dan melatih. Hal tersebut berarti bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan penting dalam kehidupannya di masa mendatang. Arti upaya membimbing, mengajar dan melatih peserta didik itu harus diorientasikan agar peserta didik memiliki kemampuan, pengetahuan, sikap dan berbagai ketrampilan yang dibutuhkannya sehingga kelak dia dapat memainkan peranan yang signifikan dalam kehidupannya baik secara pribadi, sebagai warga negara atau sebagai warga dunia.  Dalam suatu kegiatan pembelajaran, wajar jika anak belum bisa memahami materi pelajaran dengan cepat, tapi guru wajib mengajarkan agar peserta didik tidak malu mengakui kekurangannya dalam menerima pelajaran dengan bertanya. Agar peserta didik terbiasa jujur dan terbuka dalam keadaan apapun.

 

  1. 5.      Bersosialisasi dalam kelas (menghargai orang lain)

 

Potensi yang dimiliki oleh peserta didik hanya dapat dikembangkan jika dia mengintegrasikan diri ke dalam kehidupan masyarakat dan mewujudkan tata kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Itulah manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Dengan demikian, pendidikan tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan dari kebudayaan. Memisahkan pendidikan  dari kebudayaan berarti menjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai moral di dalam kehidupan manusia. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orangtua dan orang-orang terdekat. Sebagian ahli menyebutnya bahwa pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluarga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai baru yang rusak. Setelah keluarga ada lingkungan sekolah dimana anak mempelajari ilmu pengetahuan. Mereka mempelajarinya dalam lingkup suatu kelas yang terdiri dari siswa dan guru. Danur sering bertanya karena dia belum dapat membaca dengan lancar, kemudian teman-teman di kelas mengejeknya karena bagi mereka pertanyaan yang diajukan Danur tidak sulit. Saat itulah peran guru sangat diperlukan untuk menanamkan nilai menghargai orang lain, seperti yang dilakukan penyusun dengan berkata, “dulu kalian juga pernah bertanya demikian, bukan?”. Dengan begitu anak juga terbiasa menghargai orang lain, bahkan belajar introspeksi terhadap kesalahannya.

 

  1. 6.      Mengenal berbagai karakter orang lain (berpikir kritis)

 

Secara umum masyarakat Jawa hidup dalam norma masyarakat yang relatif masih baik, meskipun pergeseran-pergeserannya ke arah rapuh semakin kuat. Lingkungan buruk  yang sering terjadi di sekitar anak, misalnya: kelompok pengangguran, judi yang di”terima”, perkataan jorok dan kasar, “yang-yangan” remaja yang dianggap lumrah, dan dunia hiburan yang tidak mendidik. Sebenarnya masih banyak pengaruh positif yang dapat diserap oleh anak-anak kita di wilayah budaya masyarakat Jawa, seperti: tutur kata bahasa Jawa yang kromo inggil ataupun berbagai peraturan hidup yang tumbuh di dalam budaya Jawa. Masalahnya adalah bagaiamana mengelaborasi nilai-nilai tersebut agar sesuai dengan nilai-nilai yang seharusnya diperoleh anak. Namun pada masa kini pengaruh sesungguhnya mana yang buruk dan bukan menjadi serba relatif dan kadang tidak dapat dirunut lagi. Guru berperan memperkenalkan berbagai karakter orang lain di sekitar peserta didik. Danur pernah menjadi anak yang suka berkata kotor dan tidak sopan, guru memperkenalkan karakter mereka yang mengajarkannya ke dalam karakter yang buruk dan tidak patut ditiru. Terhadap Tino yang sudah mampu mengerjakan PR nya sendiri karena sudah dapat membaca, Danur memotivasi dirinya untuk bisa membaca juga. Terjadi persaingan sehat dalam kegiatan pembelajaran yang dapat membuat Danur meningkatkan belajarnya. Secara tidak langsung anak mampu berpikir terhadap lingkungannya dan mengambil sikap terhadap permasalahan yang dia hadapi.

 

            Banyak kegiatan yang dapat dilakukan guru dan orang tua untuk membentuk karakter anak dengan menggunakan lingkungan sebagai media. Namun perlu diingat bahwa kemampuan setiap anak dalam memahami suatu hal berbeda-beda. Maka bukan tidak mungkin apabila seorang anak dapat membentuk banyak karakter hanya melalui suatu peristiwa saja atau bahkan belum mampu membentuk karakter meskipun telah mengalami beberapa peristiwa.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Simpulan

 

Dalam belajar mengajar guru/pendidik sering menghadapi masalah adanya siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar, ada siswa yang meperoleh prestasi belajar yang rendah, meskipun telah diusahakan untuk belajar dengan seabaik-baiknya, guru atau pendidik sering menghadapi dan menemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, untuk menghadapi siswa yang kesulitan belajar, pemahaman utuh dari guru tentang kesulitan belajar yang dialami olehsiswa nya, merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan dan bimbingan yang tepat. Kesulitan belajar yang dialami siswa itu akan termanifestasi dalam berbagai macam gejala, seperti yang terjadi pada Danur yang mempunyai potensi dalam belajar tetapi tidak tereksplorasi dengan baik. Bahkan dia mengalami penyimpangan moral dengan sering mengucapkan kata-kata kasar dan kotor karena pengaruh lingkungan yang tidak mengajarkannya untuk baik.

Dari penelitian yang dilakukan penyusun, terdapat langkah-langkah yang perlu ditempuh guru untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, diantaranya yaitu:

  1. Mengenal siswa yang mengalami kesulitan belajar

Cara yang paling mudah untuk mengenali siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah dengan cara mengenali nama siswa.

  1. Memaham sifat dan jenis kesulitan belajarnya

Langkah kedua dalam mengatasi kesulitan belajar adalah mencari dalam mata pelajaran apa saja siswa ini (kasus) mengalami kesulitan dalam belajar.

  1. Menetapkan latar belakang kesulitan belajar

Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi sebab timbulnya kesulitan belajar baik yang terletak di dalam diri siswa sendiri maupun diluar dirinya.

  1. Menetapkan usaha-usaha bantuan

Setelah diketahui sifat dan jenis kesulitan serta latar belakangnya, maka langkah selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan yang akan diberikan, berdasarkan data yang akan di peroleh.

  1. Pelaksanaan bantuan

Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan kemungkinan usaha bantuan. Pemberian bantuan diaksanakan secara terus-menerus dan terah dengan disertai penilaian yang tepat sampai pada saat yang telah diperkirakan.

  1. Tindak lanjut

Tujuan langkah ini untuk menilai sampai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut dilakukan secara terus-menerus, dengan langkah ini dapat diketahui keberhasilan usaha bantuan.

Perlu diketahui juga, awalnya banyak pendapat yang menyatakan keberhasilan anak dan pendidikan anak sangat tergantung pada IQ (intelligence quotient). Namun memasuki dekade 90-an pendapat itu mulai berubah. Daniel Goleman mengungkapkan bahwa keberhasilan anak sangat tergantung pada kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang dimiliki. Jadi IQ bukanlah satu satunya yang mempengaruhi keberhasilan anak, masih ada emotional intelligence yang juga perlu diperhatikan. Ini adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasaan, dan mengatur suasana hati.

 

3.2 Saran

Melalui penelitian yang telah dilakukan, penyusun memberikan saran kepada para pembaca, khususnya kita Mahasiswa PGSD. Dari berbagai penjelasan diatas, tentu banyak sekali tugas kita sebagai guru dalam mendidik anak baik mulai dari pendidikan rendah hingga jenjang pendidikan tinggi. Semua adalah tanggung jawab yang mulia, sebagaimana anak adalah karunia dan titipan Tuhan kepada kita. Maka dari itu kitalah yang harus merawat dan memperhatikan perkembangan mereka, dan akhirnya kita pula yang akan tersenyum bahagia melihat perkembangan mereka. Marilah kita memulai belajar mengenali dan mendidik anak didik mulai dari sekarang.

 

           

           

 

By anggie quydheekuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s